Rabu, 16 Oktober 2013

Perlukah kita menjadi rakyat yang demokratis?

Oleh : Zaimatul Hurriyyah

Sebelumnya, saya pernah membaca salah satu buku yang mana salah satu kutipan dalam buku tersebut membuat saya sedikit bingung. Di dalam buku itu terkutip "Demokrasi dari rakyak, oleh rakyat, untuk rakyat?. Sekarang yang benar adalah Demokrasi dari rakyat, oleh rakyat, untuk kapitalis"


Realitanya memang seperti itu! Para kaum penguasa sekarang memeras keringat rakyat hanya untuk mengisi kantong mereka. "Lalu dengan melihat realita yang seperti itu apakah Indonesia sudah menjadi negara yang demokrasi?" BELUM! Tikus-tikus yang licik masih berkeliaran di senayan menikmati uang rakyat. Sementara para buruh dan petani bekerja memeras keringat mereka demi membayar pajak. 



Kenyataan seperti itu tidak bisa kita pungkiri. Walaupun para pemimpin berwajah tikus sama sekali tidak mencerminkan seseorang yang memiliki jiwa demokratis, KITA sebagai warga negara Indonesia harus merubah Indonesia menjadi negara yang bersih dengan menjadikan diri kita sebagai warga negara yang demokratis, yaitu dengan mempunyai rasa hormat dan tanggung jawab, bersikap kritis, bersikap terbuka, bersikap rasional, adil, dan selalu bersikap jujur, dan yang paling penting adalah tidak korupsi! kalau bisa menumpas segala bentuk korupsi, kolusi, dan nepotisme yang ada di sekitar kita.

"Kalau pemerintah belum bersikap demokratis, mengapa warga negaranya harus demokratis?" Kita rasionalkan saja! Jika pemerintah dan warga negaranya sama-sama tidak demokratis, maka negara tersebut akan hancur karena satu sama lain saling menyalahkan dan berakhir dengan peperangan. Kalau tidak KITA yang mengawali, siapa lagi?!

Kamis, 03 Oktober 2013

Rohingya : Berikan aku ruang

Oleh : Zaimatul Hurriyyah

Mungkin ini adalah suatu kebetulan atau ini semua memang takdir. Minggu lalu dosen intensif bahasa Inggrisku memberi tugas membuat artikel dalam bahasa Inggris tentang kesengsaraan suku Rohingya yang dikucilkan hanya karena mereka adalah seorang Muslim. Dan kebetulan sekali, dosen Civic Education-ku memberi tugas tentang kasus NEGARA-AGAMA. Ada hubungannya, kan?!

Rohingya adalah sebuah suku campuran antara India dan Bangladesh yang mana sangat berlawanan dengan kebanyakan masyarakat Myanmar yang mana keturunan Sino-Tibet. Hampir seluruh suku Rohingya bergama Islam. Sedangkan masyarakat Myanmar sendiri mayoritas beragama Budha. Inilah asal mula terjadinya konflik keagamaan di Myanmar.

Penderitaan muslim Rohinya berawal sejak abad ke 19. Dari mulai pembantaian, pengusiran, dan kekejaman yang lain terus-menerus menghantam kaum Rohingya yang malang. Bahkan telah diketahui sampai saat ini diperkirakan 15.000 Muslim Rohingya tewas mengenaskan. Sedangkan 30.000 dinyatakan hilang. Dan 5000 orang ditahan tanpa sebab yang jelas. TIDAK HANYA ITU!! Bahkan 21 Masjid di bakar oleh orang-orang Budha dan pihak pemerintah.




Selain itu, mereka juga tidak diakui sebagai warga negara Myanmar. Mereka juga tidak boleh melanjutkan ke perguruan tinggi, mereka didiskriminasi. Dan bahkan rumah-rumah mereka dibakar tanpa sisa. Astaghfirullah...


Oleh sebab itu, banyak Muslim Rohingya yang mencoba melarikan diri ke negara lain, seperti Indonesia dan Australia dengan persediaan yang kurang memadai sehingga banyak diantara mereka yang tewas sebelum mencapai tujuan. Innalillahi wa innailaihi raaji'uun....


"Mengapa orang Muslim harus dikucilkan?" "Apa salah mereka sebenarnya?". Mereka hanya butuh tempat tinggal. Mereka hanya ingin hidup dengan tenang. Mereka tidak pernah mengusik kaum mayoritas tapi kenapa mereka selalu diusik?. Semua manusia memiliki hak untuk hidup, kan?!


Mendapati hal itu, pemerintah Indonesia tidak hanya tinggal diam! Pemerintah Indonesia memperbolehkan para pengungsi dari Rohingya untuk tetap tinggal di Indonesia dan memberikan mereka bantuan berupa bahan-bahan makanan. Saya sangat berharap pemerintah Indonesia dapat memberikan bantuan lebih bagi muslim Rohingya yang masih berada di Myanmar. Walaupun konflik ini sudah mereda, tapi saya yakin! Muslim Rohingya masih membutuhkan uluran tangan kita.  


  

"Cintai aku!" kata Indonesia

Oleh : Zaimatul Hurriyyah

Tidak sedikit orang yang mengaku bahwa dirinya mencintai Indonesia. Tapi pada kenyataannya TIDAK!! Pada era globalisasi ini, rasa nasionalisme bangsa nampaknya semakin lama semakin memudar. "Apa buktinya?"

Kita bisa melihat bukti pudarnya rasa nasinalisme misalnya dari cara berpakaian kebanyakan orang di Indonesia. Dari jutaan manusia yang hidup di negara ini, hanya segelintir orang saja yang suka dan bangga memakai batik. Contohnya saja teman-teman di kampusku! Dari 41 Mahasiswa di dalam kelasku, rata-rata hanya 2 sampai 3 Mahasiswa saja yang mengenakan batik. Bahkan aku sendiripun hanya memiliki 3 baju batik dari sekian banyak baju yang kupunya. 

Kebanyakan orang pada zaman sekarang gemar dan bangga mengaplikasikan budaya-budaya asing ke kehidupan sehari-hari. Saat ini, budaya asing rupanya sudah menghipnotis para remaja Indonesia, misalnya saja Korean Style yang telah menjadi mode trend 2013.



Terdapat banyak sekali pakaian bergaya korea yang dijual di Pasar. Lantas apakah gerangan yang menyebabkan hal itu?
Saat ini, marak sekali film-film dari luar negeri terutama dari Korea yang secara tidak langsung dan secara perlahan-lahan tanpa disadari sudah memasukkan budaya mereka ke negaa kita. Mulai dari gaya berpakaian, gaya rambut, dan lain sebagainya. "Mengapa bisa demikian?" dan "Mengapa budaya kita sendiri kurang diminati sementara budaya lain sangat digemari?"

Aku sendiri juga bertanya-tanya pada hati kecilku sendiri "Mengapa semangat bangsa kita memudar seperti ini?!". Perubahan terletak pada diri kita sendiri, yaitu masyarakat Indonesia. Tergantung kita saja sebagai masyarakat mau atau tidak mau mengubah cara pandang budaya asing untuk kembali ke budaya kita sendiri.

Aku sangat berharap dengan tulisanku ini para pembaca bisa mencintai tanah air dengan sepenuh hati dengan menerapkan budaya kita sendiri ke kehidupan sehari-hari seperti mengenakan batik TANPA MALU TAPI BANGGA. Mulai sekarang, akupun akan berusaha mencitai Indonesia dengan sejati.
Amiiiinnn.......

Senin, 30 September 2013

mirisnya konflik mesir

Oleh : Zaimatul Hurriyyah

Mungkin banyak orang yang kurang tau tentang apa sebab asal muasal konflik yang terjadi di Mesir, iya kan?!

Konflik mesir bermula sejak pihak oposisi mencoba menggulingkan Presiden Mesir, Mohammed Mursi yang dianggap tidak becus memimpin negara. Oleh karena itu, timbullah banyak pergolakan-pergolakan yang mana menyebabkan banyak korban.

Semakin hari semakin lama kondisi Mesir semakin tidak stabil. Kerusuhanpun terus terjadi antara pendukung Mohammad Mursi dan pihak militer yang mana semakin membuat kondisi Mesir semakin buruk.


Partai pendukung Mursi (Ikhwabul Muslimin) rupanya berencana datang ke Indonesia untuk menemui Komisi Politik Luar Negeri DPR.



"Pimpinan Komisi I DPR menerima kunjungan Jubir Freedom and Justice Party, Egypt atau Partai IM (Ikhwanul Muslimin Mesir) yaitu Dr Ahmed M Fahmi el-Watidi di ruang tamu Komisi I jam 11.00-12.00," ungkap Ketua Komisi I DPR Mahfudz Siddiq dalam pesan singkatnya kepada Liputan6.com di Jakarta, Kamis (5/9/2013).


Partai Ikhwanul Muslimin itu datang karena ingin menjelaskan situasi dan kondisi di Mesir paska-bentrokan yang membuat ratusan jiwa melayang.


"Nampaknya jubir tersebut ingin menjelaskan situasi sebenarnya yang terjadi di Mesir terkait konflik politik saat ini," tutur Mahfudz, Wakil Sekjen Partai Keadilan Sejahtera (PKS).
Dengan berlangsungnya pertemuan antara kedua belah pihak, komisi I DPR mengharapkan agar Indonesia turut mengambil peran dalam menyelesaikan konflik di Mesir yang semakin lama semakin memanas itu.


Telah diketahui sebanyak 95 jiwa telah melayang di Kairo dan di daerah lain akibat konflik itu. Akan tetapi, Kelompok pendukung Mursi mengungkapkan bahwa jumlah korban jiwa jauh lebih tinggi daripada jumlah yang diumumkan pemerintah.


Dengan mengetahui konflik-konflik seperti itu, kita sebagai warga Indonesia harus menumbuhkan semangat nasionalisme agar tidak terjadi perpecahan di negara kita. Nasionalisme  itu sendiri adalah suatu gejala psikologis berupa rasa persamaan dari sekelompok manusia yang menimbulkan kesadaran sebagai bangsa. Bangsa adalah sekelompok manusia yang hidup dalam suatu wilayah tertentu dan memiliki rasa persatuan yang timbul karena kesamaan pengalaman sejarah, serta memiliki cita-cita bersama yang ingin dilaksanakan di dalam negara yang berbentuk negara nasional.