oleh : Zaimatul Hurriyyah
Seperti yang kita tau, Demokrasi adalah bentuk pemerintahan yang semua warga negaranya memiliki hak setara dalam pengambilan keputusan yang dapat mengubah hidup mereka. Lalu dengan definisi tentang demokrasi tersebut, apakah Indonesia sudah menjadi negara yang menganut sistem demokrasi?. Pada kenyataannya TIDAK.
Rakyat kelas bawah hanya menjadi batu pijakan bagi rakyat kelas atas terutama bagi pejabat. Para pejabat sering kali mengobral janji untuk memperbaiki infrastruktur, mengurangi pengangguran, menggratiskan pengobatan dan pendidikan, dan janji-janji palsu yang lainnya. Pada kenyataannya, kebanyakan dari mereka yang terpilih menjadi wakil rakyat hanya menepati janjinya di awal dan di akhir masa jabatannya saja. Bila dihitung, janji mereka kurang dari 50% tidak terealisasikan. Kenapa bisa begitu? Padahal APBN dan APBD di Indonesia sangat banyak sekali melebihi negara-negara di asia tenggara yang lainnya.
Data belanja Indonesia tahun 2012 sebesar Rp1.435,4 T. Dibandingkan dengan data belanja Malaysia yang hanya sekitar Rp650 T. Mungkin Indonesia membutuhkan dana yang lebih banyak karena memiliki daerah yang lebih luas. Tapi dana yang begitu banyak tersebut tidak seimbang dengan sedikitnya kemakmuran yang di dapatkan rakyat.
Lalu ke manakah dana-dana tersebut?!
Ke sinilah dana-dana yang seharusnya untuk kesejahteraan rakyat itu mengalir dan terhenti di kantong mereka. Dan yang lebih ironis, mereka hanya dipenjara selama beberapa tahun saja! Itupun dengan fasilitas yang jauh lebih memadai dari pada narapidana lain. Oleh karena itu, KITA sebagai generasi muda, harus mengobarkan semangat darah juang 45 untuk menghentikan semua ini dan berusaha menciptakan sistem demokrasi yang sebenarnya di Indonesia. Kalau tidak kita, siapa lagi?!
Oleh : Zaimatul Hurriyyah
Sebelumnya, saya pernah membaca salah satu buku yang mana salah satu kutipan dalam buku tersebut membuat saya sedikit bingung. Di dalam buku itu terkutip "Demokrasi dari rakyak, oleh rakyat, untuk rakyat?. Sekarang yang benar adalah Demokrasi dari rakyat, oleh rakyat, untuk kapitalis"
Realitanya memang seperti itu! Para kaum penguasa sekarang memeras keringat rakyat hanya untuk mengisi kantong mereka. "Lalu dengan melihat realita yang seperti itu apakah Indonesia sudah menjadi negara yang demokrasi?" BELUM! Tikus-tikus yang licik masih berkeliaran di senayan menikmati uang rakyat. Sementara para buruh dan petani bekerja memeras keringat mereka demi membayar pajak.
Kenyataan seperti itu tidak bisa kita pungkiri. Walaupun para pemimpin berwajah tikus sama sekali tidak mencerminkan seseorang yang memiliki jiwa demokratis, KITA sebagai warga negara Indonesia harus merubah Indonesia menjadi negara yang bersih dengan menjadikan diri kita sebagai warga negara yang demokratis, yaitu dengan mempunyai rasa hormat dan tanggung jawab, bersikap kritis, bersikap terbuka, bersikap rasional, adil, dan
selalu bersikap jujur, dan yang paling penting adalah tidak korupsi! kalau bisa menumpas segala bentuk korupsi, kolusi, dan nepotisme yang ada di sekitar kita.
"Kalau pemerintah belum bersikap demokratis, mengapa warga negaranya harus demokratis?" Kita rasionalkan saja! Jika pemerintah dan warga negaranya sama-sama tidak demokratis, maka negara tersebut akan hancur karena satu sama lain saling menyalahkan dan berakhir dengan peperangan. Kalau tidak KITA yang mengawali, siapa lagi?!
Oleh : Zaimatul Hurriyyah
Mungkin ini adalah suatu kebetulan atau ini semua memang takdir. Minggu lalu dosen intensif bahasa Inggrisku memberi tugas membuat artikel dalam bahasa Inggris tentang kesengsaraan suku Rohingya yang dikucilkan hanya karena mereka adalah seorang Muslim. Dan kebetulan sekali, dosen Civic Education-ku memberi tugas tentang kasus NEGARA-AGAMA. Ada hubungannya, kan?!
Rohingya adalah sebuah suku campuran antara India dan Bangladesh yang mana sangat berlawanan dengan kebanyakan masyarakat Myanmar yang mana keturunan Sino-Tibet. Hampir seluruh suku Rohingya bergama Islam. Sedangkan masyarakat Myanmar sendiri mayoritas beragama Budha. Inilah asal mula terjadinya konflik keagamaan di Myanmar.
Penderitaan muslim Rohinya berawal sejak abad ke 19. Dari mulai pembantaian, pengusiran, dan kekejaman yang lain terus-menerus menghantam kaum Rohingya yang malang. Bahkan telah diketahui sampai saat ini diperkirakan 15.000 Muslim Rohingya tewas mengenaskan. Sedangkan 30.000 dinyatakan hilang. Dan 5000 orang ditahan tanpa sebab yang jelas. TIDAK HANYA ITU!! Bahkan 21 Masjid di bakar oleh orang-orang Budha dan pihak pemerintah.
Selain itu, mereka juga tidak diakui sebagai warga negara Myanmar. Mereka juga tidak boleh melanjutkan ke perguruan tinggi, mereka didiskriminasi. Dan bahkan rumah-rumah mereka dibakar tanpa sisa. Astaghfirullah...
Oleh sebab itu, banyak Muslim Rohingya yang mencoba melarikan diri ke negara lain, seperti Indonesia dan Australia dengan persediaan yang kurang memadai sehingga banyak diantara mereka yang tewas sebelum mencapai tujuan. Innalillahi wa innailaihi raaji'uun....
"Mengapa orang Muslim harus dikucilkan?" "Apa salah mereka sebenarnya?". Mereka hanya butuh tempat tinggal. Mereka hanya ingin hidup dengan tenang. Mereka tidak pernah mengusik kaum mayoritas tapi kenapa mereka selalu diusik?. Semua manusia memiliki hak untuk hidup, kan?!
Mendapati hal itu, pemerintah Indonesia tidak hanya tinggal diam! Pemerintah Indonesia memperbolehkan para pengungsi dari Rohingya untuk tetap tinggal di Indonesia dan memberikan mereka bantuan berupa bahan-bahan makanan. Saya sangat berharap pemerintah Indonesia dapat memberikan bantuan lebih bagi muslim Rohingya yang masih berada di Myanmar. Walaupun konflik ini sudah mereda, tapi saya yakin! Muslim Rohingya masih membutuhkan uluran tangan kita.
Oleh : Zaimatul Hurriyyah
Tidak sedikit orang yang mengaku bahwa dirinya mencintai Indonesia. Tapi pada kenyataannya TIDAK!! Pada era globalisasi ini, rasa nasionalisme bangsa nampaknya semakin lama semakin memudar. "Apa buktinya?"
Kita bisa melihat bukti pudarnya rasa nasinalisme misalnya dari cara berpakaian kebanyakan orang di Indonesia. Dari jutaan manusia yang hidup di negara ini, hanya segelintir orang saja yang suka dan bangga memakai batik. Contohnya saja teman-teman di kampusku! Dari 41 Mahasiswa di dalam kelasku, rata-rata hanya 2 sampai 3 Mahasiswa saja yang mengenakan batik. Bahkan aku sendiripun hanya memiliki 3 baju batik dari sekian banyak baju yang kupunya.
Kebanyakan orang pada zaman sekarang gemar dan bangga mengaplikasikan budaya-budaya asing ke kehidupan sehari-hari. Saat ini, budaya asing rupanya sudah menghipnotis para remaja Indonesia, misalnya saja Korean Style yang telah menjadi mode trend 2013.
Terdapat banyak sekali pakaian bergaya korea yang dijual di Pasar. Lantas apakah gerangan yang menyebabkan hal itu?
Saat ini, marak sekali film-film dari luar negeri terutama dari Korea yang secara tidak langsung dan secara perlahan-lahan tanpa disadari sudah memasukkan budaya mereka ke negaa kita. Mulai dari gaya berpakaian, gaya rambut, dan lain sebagainya. "Mengapa bisa demikian?" dan "Mengapa budaya kita sendiri kurang diminati sementara budaya lain sangat digemari?"
Aku sendiri juga bertanya-tanya pada hati kecilku sendiri "Mengapa semangat bangsa kita memudar seperti ini?!". Perubahan terletak pada diri kita sendiri, yaitu masyarakat Indonesia. Tergantung kita saja sebagai masyarakat mau atau tidak mau mengubah cara pandang budaya asing untuk kembali ke budaya kita sendiri.
Aku sangat berharap dengan tulisanku ini para pembaca bisa mencintai tanah air dengan sepenuh hati dengan menerapkan budaya kita sendiri ke kehidupan sehari-hari seperti mengenakan batik TANPA MALU TAPI BANGGA. Mulai sekarang, akupun akan berusaha mencitai Indonesia dengan sejati.
Amiiiinnn.......